Kamis, 06 April 2017

Sejarah NHKBP



Sejarah terbentuknya Seksi Pemuda di HKBP
Sejarah terbentuknya seksi pemuda atau yang sering dikenal dengan sebutan Naposo Huria Kristen Batak Protestan (NHKBP) tentunya memiliki proses yang panjang hingga pada saat ini, yang mana seksi pemuda ini terbentuk untuk menjawab kebutuhan Gereja dalam menanggapi perkembangan zaman yang terjadi sehingga dalam Konferensi Pemuda Batak pada tanggal 24 Mei 1926 di Sipoholon Tarutung, diusulkan agar HKBP meminta seorang Jeugdleider (Pendeta khusus pemuda) dari Barmen.[1] Usul tersebut disampaikan dalam Sinode Godang HKBP tahun 1927 sehingga HKBP meminta seorang tenaga khusus dari Rheinishe Mission Gesellschaft (RMG) yang kemudian mengutus Dr. Ernst Verwiebe yaitu seorang pendeta yang mempunyai keahlian di bidang kepemudaan. Disinilah awal dimulainya pelayanan khusus kepada pemuda.[2] Sehinga pada bulan Juni tahun 1927 pemuda  melakukan kegiatan yang dipimpin oleh Pdt. Dr. E. Verwiebe.[3] Sebelum menjadi NHKBP, awalnya perkumpulan pemuda bernama Naposo Kristen Batak (NKB) yang dibentuk pada tahun 1932.
Namun NKB hanya berjalan beberapa tahun disebabkan kedudukan jepang di Indonesia yang berupaya membubarkan segala bentuk-bentuk kesatuan masyarakat pribumi. Setelah kedudukan  Jepang berakhir di Indonesia, upaya menghidupkan kembali NKB muncul sehingga di Sinode Godang tahun 1948, yang mana muncul ide mengangkat pendeta khusus menangani pemuda dari pendeta HKBP dan menjadikan NKB dalam satu seksi dalam pelayanan HKBP sehingga untuk merealisasikan usul ini, maka diadakanlah Konferensi NHKBP pertama yaitu tanggal 23-26 Juni 1952 yang memutuskan berdirinya badan NHKBP yang di sahkan pada Sinode Godang tanggal 26-28 November 1952.[4]



[1] Departemen NHKBP, Panggilan Untuk Berbuah, Buku kenangan jubileum 50 Tahun NHKBP (Pearaja Tarutung: Kantor Pusat, 1977),  12.
[2] Departemen NHKBP, Panggilan Untuk Berbuah, Buku kenangan jubileum 50 Tahun NHKBP, 34.
[3] HKBP, “Angka Taon Siingoton” dalam Almanak HKBP 2005, (Pematangsiantar: Percetakan HKBP,2005), 541.
[4] Departemen NHKBP, Panggilan Untuk Berbuah, Buku kenangan jubileum 50 Tahun NHKBP, 34-35.

Danau Toba Destinasi Wisata



Pembangunan Danau Toba Atau Membangun di Danau Toba?
Akhir-akhir ini pemerintah baik pusat ataupun daerah sedang gencar-gencar pengembangan Danau Toba sebagai destinasi pariwisata, dengan tujuan Danau Toba semakin diminati oleh turis-turis mancanegara ataupun domestik  sehingga menambah pendapatan daerah dari sektor pariwisata. Tidak tanggung-tangung pemerintah mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk pengembangan Danau Toba. Tentunya hal ini memiliki dampak positif ataupun negatif. Dalam rangka pengembangan Danau Toba tersebut, pemerintah berencana akan membangun Tol agar akses menuju Danau Toba semakin muda dan pengembangan bandara-bandara seperti bandara silangit dan bandara sibisa. Disamping hal tersebut akan banyaknya pembangunan yang akan terjadi di sekitaran Danau Toba seperti, Hotel, Mall, Restoran, dan gedung-gedung lainnya yang mendukung pengembangan Danau Toba tersebut. Sehingga terlihat yang dilakukan adalah pembangunan di Danau Toba,  hal ini tentunya akan sangat berdampak bagi keadaan lingkungan di sekitaran Danau Toba.
Ada beberapa hal yang penting harus disoroti dari pengembangan Danau Toba yang di canangkan pada saat ini, seperti:
  1. Pembangunan untuk siapa?
Pengembangan Danau Toba terlihat mementingkan para elite-elite penguasa (pemodal) yang akan menguasai perekonomian  di danau toba, sehingga menjadi korban adalah usaha-usaha kecil warga sekitar yang mengais rezeki dari Danau Toba.

  1. Masihol Tu Bona Pasogit
Tidak bisa dipungkiri bahwa begitu banyak orang batak yang pergi merantau, dan  pastinya sebahagian besar akan merindukan suasana di kampung halaman. Mereka memberikan waktu untuk keluar dari hiruk-pikuk dan keramaian kota. Mereka merindukan kampung halaman karena udara yang sejuk, hening, nyaman. Namun setelah terjadi pembangunan di bona pasogit(kampung halaman), tidak ada bedanya lagi dengan kehidupan di kota-kota, karena dalam hitungan detik bona pasogit akan menjadi sepeti kota metropolitan. Suasana yang dirindukan oleh orang-orang di kampung halaman tidak akan ditemukan lagi, pemandangan alam akan berubah menjadi gedung-gedung yang megah dan besar. Hal inilah nantinya menyebabkan orang-orang yang merantau (pangaranto) menjadi malas pulang ke kampung halamannya.

  1. Kerusakan Lingkungan
Pembangunan di sekitar Danau Toba tentunya akan berdampak bagi kelestarian lingkungan. Pembangunan gedung-gedung akan menggunakan lahan-lahan kosong, dan pembangunan hotel-hotel akan menyebabkan pencemaran air Danau Toba, karena limbah-limbah dari hotel akan dibuang langsung ke Danau. Kemudian akan semakin banyak kapal-kapal mengiasi Danau Toba untuk memenuhi kebutuhan para turis dan wisatawan, tentunya hal ini turut merusak atau mencemari air Danau, disebabkan dari mesin kapal-kapal tersebut. Lagi-lagi yang akan menjadi korban ialah warga sekitar yang memanfaatkan air Danau Toba untuk kebutuhan hidupnya.

            Pengembangan Danau Toba menjadi destinasi wisata kiranya memperhatikan kehidupan penduduk asli sekitaran Danau Toba dan kelestarian lingkungan yang ada. Danau Toba dengan keindahannya disebabkan oleh masih aslinya kawasan Danau Toba, namun ketika terjadi pembangunan tidak menutup kemungkinan keindahan Danau Toba yang selama ini menjadi faktor penarik bagi kalangan wisatawan akan berkurang bahkan tidak menutup kemungkinan akan hilang.